Wednesday, November 16, 2011

Simak Cara Kerja Pawang Hujan Arena SEA Games

Kamis, 17 November 2011 14:19

PALEMBANG - Tim BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) hingga hari ini, Kamis (17/11/2011) tetap bertugas mengamankan kawasan Jakabaring Sport City (JSC) dari hujan, terutama di siang hari.

Berbagai upaya untuk pencegahan hujan dilakukan, mulai dari udara maupun melalui darat. Dari darat, Tim BPPT memasang generator aerroso (pembangkit) dengan bahan baku kimia yang dilarutkan dan dibakar (burning) sehingga menghasilkan partikel harus hygroscopis dengan ketebalan dibawah 1 mikron.

"Alat yang menghasilkan partikel ini berfungsi untuk memandulkan awan yang berpotensi hukan menjadi awan
putih dan hilang dari lokasi target yang diinginkan," kata Pitoyo S Sarwono.

Untuk menghalau awan di kawasan Jakabaring, BPPT menempatkan Generator Partikel di delapan lokasi dan terus nyala sesuai yang diinginkan.



sumber : tribun

Mari Belajar Sportif , Kok Mengucapkan Kata-kata Kurang Pantas Seperti "Maling" atau "Ganyang Malaysia"

Kamis, 17/11/2011 09:09

Palembang - Mendukung dan menyemangati atlet dari negara sendiri memang merupakan sebuah keharusan. Tetapi harusnya hal tersebut tak mengahalangi kita untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Banyak cara untuk menunjukkan sportivitas seorang suporter di tribun. Kalau tak ikhlas untuk memberikan aplaus kepada lawan yang meraih kemenangan, setidaknya kita tidak melontarkan cemoohan atau sorakan bernada ejekan.

Namun, kedewasaan semacam itu tampaknya belum dimiliki oleh para penonton yang memenuhi Stadion Akuatik Jakabaring, Rabu (15/11/2011) malam WIB. Dalam babak final enam nomor cabang olahraga renang ini, mereka berulang kali melakukan tindakan yang tak sepatutnya dicontoh.

Saat acara pengalungan medali nomor gaya bebas 100 meter putri, di mana Natthanan Junkrajang jadi juara, announcer meminta penonton untuk berdiri demi menghormati lagu kebangsaan Thailand. Alih-alih mau beranjak dari duduknya, penonton malah gaduh dan sebagian membunyikan terompet. Announcer sampai dua
kali meminta penonton untuk berdiri, tapi cuma sedikit yang mengacuhkannya.

Kejadian lebih memprihatinkan terjadi saat acara pengalungan medali nomor gaya dada 200 meter putri, di mana perenang Malaysia Yi Ting Siow mendapatkan emas. Dari awal, announcer sudah meminta penonton untuk berdiri dan tidak berisik.

Namun, seolah-olah sudah direncanakan, hampir seisi stadion malah kompak melontarkan cemoohan saat lagu kebangsaan Malaysia diputar. Sebagian meniup terompet, bahkan ada yang sampai mengucapkan kata-kata kurang pantas seperti "maling" atau "ganyang Malaysia".

Kondisi bertolak belakang tersaji saat perenang tuan rumah, I Gede Siman Sudartawa, naik podium untuk menerima medali emas nomor gaya punggung 50 meter putra. Seisi stadion berdiri dan hampir semuanya ikut bernyanyi saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Bagaimana dengan atlet dan ofisial Malaysia yang tadi menyaksikan lagu kebangsaannya dicemooh? Ternyata, mereka bukan pendendam. Saat Indonesia Raya diputar, mereka menunjukkan sikap sportif dengan tetap berdiri dari duduknya.

Pemandangan seperti ini tentu jadi ironi. Kita berulang kali menggembar-gemborkan pernyataan bahwa kita siap jadi tuan rumah SEA Games, namun ternyata kita belum sepenuhnya siap untuk jadi suporter yang dewasa, berkelas, dan sportif.

Sepertinya penonton kita layak meneladani kejadian di venue sepatu roda, Senin (14/11/2011) lalu. Di final nomor 10.000 meter elimination putri, Indonesia sudah memastikan emas dan perak lewat Ajeng Anindya dan Sylvia. Perunggu direbut Jia Man Carmen Goh dari Singapura.

Saat Ajeng dan Sylvia sudah merayakan kemenangannya, atlet Malaysia Siti Bainurin Abu Hasan yang menempati posisi paling belakang masih berjuang. Dia tertinggal hingga empat lap karena sempat terjatuh di tengah lomba.

Kejadian mengharukan terjadi saat announcer meminta para penonton untuk memberikan dukungan dan semangat untuk Siti. Seketika itu juga, semua orang yang ada di venue memberikan tepuk tangan penyemangat.

Yang makin mengejutkan, dalam acara pengalungan medali, Siti dipanggil naik podium meski tak kebagian medali. Dia dihadiahi maskot SEA Games Modo Modi dan diberi kesempatan untuk berfoto dengan para pemenang. Ini jelas merupakan angin segar dan perilaku luar biasa yang sangat mesti ditiru dan dipelihara.

Dua kejadian di atas memberikan kita pelajaran bahwa olahraga sudah sepatutnya tidak dikeluarkan dari khitahnya dan tidak dicampuradukkan dengan hal-hal lain, termasuk masalah diplomatik antarnegara. Bukannya olahraga itu sendiri bertujuan membangun persahabatan dan sportivitas?

sumber : tribun

Mohon Doa, Ni Putu All Out Bertarung di Laga Penutup Vovinam

Rabu, 16 November 2011 16:29

Cabang olahraga Vovinam
JAKARTA - Atlet putri Vovinam Indonesia, Ni Putu Evi Windar berjanji habis-habisan dan memberikan yang terbaik dalam pertandingan tarung tunggal putri (Fighting Women 55 kilogram) pada laga penutup cabang ini.

"Saya berharap bisa menghentikan Vietnam di kategori tarung. Mohon doa ya," kata Evi Windar jelang pertandingan di GOR Remaja, Rabu (16/11/2011).

Pada pertandingan sendiri Evi akan langsung berhadapan dengan atlet asal Vietnam, Nguyen Thi Cham Vie untuk merebutkan tiket final kategori tersebut. Sedangkan altet Kamboja, Vy Sreykhouch melawan atlet Laos,
Chanthanivong Vongdeuan.

Sementara pada hari terakhir dalam laga cabang ini, para peserta Vovinam akan merebutkan 4 medali emas yang dianta kategori tersebut yakni, kategori Women's Multi Weapon, kategori Man Weapon Double, kategori Woman Self Defense, dan kategori Fighting Women 55 kilogram

sumber : tribun

Tuesday, November 15, 2011

Senam Artistik Rebut Satu Emas

Rabu, 16 November 2011, 08:09

PALEMBANG - Tim nasional senam artistik Indonesia, akhirnya berhasil meraih medali emas setelah Muhammad Try Saputra membukukan poin tertinggi pada final perorangan alat palang tunggal di Gedung Olahraga Ranau Jakabaring, Palembang, Selasa (15/11).

Muhammad Try Saputra membukukan poin 14,200 sama halnya dengan torehan pesenam Vietnam, Phuoc Hung Pham, sehingga meraih gelar juara bersama. Sedangkan medali perunggu diraih rekan satu timnya, Ferrous One Willyodac dengan skor 13,775.

Dua medali perak diraih Dewi Prahara pada alat meja lompat putri dan Ronny Sabputra pada alat meja lompat putra.

Berikutnya, empat medali perunggu diraih pada alat lantai dipersembahkan Ferrous One Willyodac, gelang-
gelang berkat Endriadi, palang tunggal Ferrous One Willyodac, serta palang bertingkat oleh Nefi Nurbeity.

Pada pertandingan hari terakhir itu, Indonesia berhasil meraih satu emas, dua perak, dan empat perunggu, dari sepuluh medali yang diperebutkan. Sebelumnya, pada hari pertama Indonesia berhasil meraih satu perunggu beregu putra, dan satu perunggu beregu putri.

Pelatih senam putra Indonesia, Jonathan Sianturi mengaku belum puas dengan hasil yang didapat itu karena pada awalnya menargetkan dua medali emas. "Ada satu alat yang saya targetkan meraih medali emas justru menjadi perak. Tapi, secara keseluruhan saya gembira karena untuk seluruh alat ada atlet yang masuk kualifikasi," ujar dia.

Dia melanjutkan, artinya pesenam Indonesia masih diperhitungkan pada arena SEA Games. "Untuk setiap alat, ada dua atlet yang masuk kualifikasi, artinya tidak terlalu buruk. Sehingga tidak bisa dikatakan Indonesia di bawah meskipun pada akhirnya hanya meraih satu medali emas," kata mantan atlet nasional itu.

Pada SEA Games kali ini, Vietnam berhasil menunjukkan dominasinya, setelah meraih sembilan emas dari sepuluh medali yang diperebutkan pada hari terakhir.

Tim nasional Vietnam hanya gagal meraih medali emas pada alat kuda-kuda pelana putra, setelah atlet Thailand Rartcgwat Kaewpanya mengumpulkan poin tertinggi.

Sedangkan pesenam putri Vietnam Thi Thu Ha Thanh berhasil menunjukkan kelasnya sebagai juara III kejuaraan dunia di Tokyo, Jepang, tahun 2010. Dia menyapu bersih medali perorangan pada senam artistik yakni empat medali emas pada final alat, dan satu medali emas pada seluruh alat (all round).

Pelatih senam putri Indonesia, Eva Butarbutar mengatakan telah memprediksi hal itu. "Sejak awal saya prediksi seluruh medali emas perorangan akan diambil pesenam putri Vietnam, karena memang SEA Games bukan level dia," ujar Eva.

Eva pun hanya mengucap syukur atas hasil yang didapatkan anak asuhannya pada SEA Games kali ini. "Secara pribadi saya tentunya tidak puas, tapi dengan raihan satu perak, dan dua perunggu pada sektor putri, saya rasa sudah cukup baik karena memang secara persiapan sangat kurang sekali," kata mantan bintang senam Indonesia yang juga pernah berjaya di ajang SEA Games itu.

sumber : MICOM

Kido/Hendra Pastikan Emas Indonesia

Selasa, 15 November 2011 | 21:29

JAKARTA - Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan memastikan emas buat Indonesia dari cabang bulu tangkis beregu. Juara olimpiade Beijing ini menang mudah 21-10, 21-14 atas pasangan Malaysia, Mak Hee Chun/Ong Soon Hock, pada babak final yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (15/11/2011).

Dengan kemenangan ini, Indonesia melanjutkan dominasinya pada nomor beregu putra di SEA Games. Tahun 2009, Indonesia juga menjadi juara melawan Malaysia dengan skor yang sama 3-1.

Pada partai final kali ini, dua angka Indonesia lainnya disumbang Simon Santoso dan Tommy Sugiarto. Satu poin yang lepas dari pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan.

Ribuan penonton yang hadir di Stadion Istora berteriak histeris menyambut kemenangan Indonesia. Ini
merupakan emas pertama dari cabang bulu tangkis pada SEA Games kali ini.

Sebelumnya, tim beregu putri hanya mendapat perak setelah di final dikalahkan Thailand 1-3.



sumber : kompas

Monday, November 14, 2011

Sepatu Roda Kembali Isi Pundi Emas Indonesia

Selasa, 15/11/2011 04:19

Jakarta - Cabang olahraga (cabor) sepatu roda kembali menunjukkan kilaunya. Meneruskan dari hari sebelumnya, sepatu roda mempersembahkan medali emas, Senin (15/11/2011), untuk melengkapi aksi sapu bersih.

Ada 12 medali emas yang diperebutkan di cabor sepatu roda dan kesemuanya berhasil digondol para atlet 'Merah Putih', dengan empat yang terakhir diraih pada hari Senin.

Selain empat medali emas tersebut, sepatu roda juga mempersembahkan empat medali perak, membuat total
medali hari ini menjadi delapan.

Masing-masing dua medali emas juga didulang oleh cabor vovinam, gulat, taekwondo, atletik, panjat tebing, dan karate. Total, ada 20 emas yang diraih Indonesia pada hari Senin.

Tambahan 20 emas tersebut membuat Indonesia terus bertengger dengan nyaman di pucuk klasemen dengan raihan 60 medali emas. Selain itu Indonesia juga mengantungi 48 perak dan 38 perunggu, membuat total medali kini menjadi 146.

Thailand tetap menghuni posisi dua di bawah Indonesia, dengan raihan 35 emas, 27 perak, dan 36 perunggu. Vietnam juga bertahan di posisi tiga dengan 27 emas, 29 perak, dan 35 perunggu.


sumber : detik

Karateka Indonesia Perkasa! Filipina Babak Belur di Final

Senin, 14 November 2011 16:59

JAKARTA - Setelah berhasil menyabet delapan emas, dua perak dan empat perunggu, cabang olahraga karate kembali menambah pundi-pundi emasnya. Kali, didapat dari nomor Kumite Beregu putra.

Bermain dengan penuh semangat, para karateka Indonesia yang diisi oleh tujuh atlet yakni Umar Syarif, Donny Darmawan Hendro Salim, Jintar Simanjuntak, Cristo Mandolu, Suryadi dan Yulizar Usia Motuty mampu mengalahkan Filipina dengan skor 3-0 sekaligus di babak final.

Dipartai pertama Indonesia menurunkan Hendro Salim untuk melawan karateka Filipina Ronnel Balingsit. Tanpa perlawan berarti, Hendro menang telak 8-0.

Lanjut di partai kedua, Indonesia menurunkan Jintar Simanjuntak melawan Rexor Romaquin. Tak mau kalah dengan prestasi rekannya, Jintar mampu menghajar Rexor dengan skor 6-1. Skor sementara 2-0 untuk
keunggulan Indonesia atas Filipina.

Pada partai ketiga yang tak lain merupakan babak penentuan, Cristo Mandolu ditunjuk oleh manager untuk mengfalahkan Ramon Franco. Hasilnya tak sia-sia. Kemenangan 6-0 atas Ramon Franco didapat dengan mudah oleh Cristo Mondolu. Filipina 'babak belur' dihajar 3-0 oleh Indonesia.

Atas hasil tersebut, Filipina harus puas mendapat medali perak. Sementara perunggu diperoleh kontingen Brunai Darussalam dan Malaysia.

sumber : tribun